3 Kelompok Gangguan Kejiwaan yang Muncul Saat Pandemi Covid-19

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, Hervita Diatri menyampaikan perubahan kondisi kesehatan mental masyarakat selama pandemi Covid-19.

Dalam sebuah survei, kata dia, pada lima bulan awal pandemi Covid-19, satu dari lima orang di Indonesia yang berusia 15 sampai 29 tahun berpikir untuk mengakhiri hidup.

Angka ini bertambah saat survei itu dilakukan kembali setahun sejak pandemi Covid-19 merebak.

“Satu tahun pandemi, survei menunjukkan dua dari lima orang berpikir untuk bunuh diri,” kata Hervita seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan.

“Dan di tahun 2022, satu dari dua orang berpikir mengakhiri hidup.” Hervita Diatri menyampaikan tiga kelompok orang yang terpapar gangguan kejiwaan selama pandemi Covid-19 terjadi.

Kelompok pertama adalah mereka yang sebelumnya tidak memiliki masalah kesehatan jiwa, kemudian menjadi punya problem gangguan jiwa.

Kelompok kedua, mereka yang sejak awal sudah mengalami masalah kesehatan kejiwaan kemudian semakin parah saat pagebluk.

Contoh, orang yang mengalami kekerasan di dalam rumah, maka pandemi Covid-19 membuat dia semakin dekat dengan pelaku kekerasan tersebut.

Akibatnya, orang tersebut mengalami gangguan kejiwaan yang lebih besar.

Kelompok ketiga adalah mereka yang sebelumnya memiliki masalah kesehatan fisik dan mengalami kesulitan untuk mengakses layanan kesehatan.

Pandemi Covid-19 mengakibatkan kondisi kesehatan fisiknya memburuk, ditambah gangguan kecemasan atau depresi karena khawatir terinfeksi virus corona dan kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan.

Orang yang masuk kelompok ketiga ini, Hervita mencontohkan, adalah mereka yang memiliki komorbid, seperti kanker, hipertensi, penyakit jantung, dan sebagainya.

“Sangat wajar kalau mereka merasa cemas yang pada akhirnya mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis,” ujarnya.

Direktur Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan, Vensya Sitohang mengatakan, pandemi Covid-19 memperparah atau mempengaruhi kesehatan kejiwaan.

Angka prevalensinya meningkat satu sampai dua kali lipat dibandingkan kondisi sebelum wabah.

“Kelompok yang terpapar gangguan jiwa berbeda-beda, sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula,” ujar Vensya.

Dalam aacara 15th ASEAN Health Ministers Meeting, Vensya mengatakan, para pemangku kesehatan di negara-negara ASEN plus tiga negara asia lainnya, yakni Cina, Jepang, dan Korea, menyatakan promosi kesehatan mental merupakan salah satu prioritas kesehatan dalam agenda pembangunan kesehatan ASEAN.

“Promosi itu dilakukan dengan menyampaikan berbagai model dan praktek efektif tentang program dan intervensi kesehatan mental serta integrasi program kesehatan mental di tingkat perawatan primer dan sekunder,” katanya.

Catatan redaksi:Jika Anda memiliki pemikiran bunuh diri atau mengetahui ada orang yang mencoba bunuh diri, segera hubungi psikolog atau psikiater terdekat.

Akses laman www.intothelightid.org/cari untuk mendapatkan layanan kesehatan mental.

Pertolongan pertama bagi orang dengan pemikiran bunuh diri juga dapat dibaca di www.intothelightid.org/tolong.

Untuk bantuan krisis kejiwaan atau tindak pencegahan bunuh diri dapat menghubungi Yayasan Pulih di (021) 78842580.

Ada pula Hotline Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan di (021) 500454, dan LSM Jangan Bunuh Diri dengan nomor telepon (021) 9696 9293.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Maye Musk Jadi Model Sports Illustrated Swimsuit 2022 Sebarkan Kepercayaan Diri
Next post NVIDIA Tingkatkan Performa PC Gaming lewat GeForce RTX dan Esports